Tim BRMP Lingtan hadiri Rapat Konsensus bersama Komite Teknis 13-15 di Bogor
Bogor, 30 September 2026 — Komite Teknis 13-15 Mitigasi Perubahan Iklim Sektor AFOLU menyelenggarakan Rapat Teknis Ke-2 dan Rapat Konsensus penyusunan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian, Bogor. Rapat konsensus dihadiri oleh anggota Komite Teknis dan para pemangku kepentingan menghasilkan kesepakatan RSNI 3.
Rapat penyusunan RSNI membahas terkait : 1) Metode Pengukuran Emisi Gas CH₄ dan N₂O di Lahan Padi Sawah – Bagian 2: Spesifikasi dan Pengoperasian Sungkup Tertutup dan 2) Metode Pengukuran Emisi Gas Metana (CH₄) dan Dinitrogen Oksida (N₂O) di Lahan Padi Sawah - Bagian 3: Perhitungan Emisi Gas CH₄ dan N₂O.
Penyusunan standar menjadi bagian penting dalam upaya menghasilkan data emisi GRK yang akurat, konsisten, transparan, dan dapat ditelusuri secara hukum dan internasional. Dalam pengukuran di lapangan, pengambilan contoh GRK banyak dilakukan menggunakan metode sungkup tertutup yang dioperasikan secara manual. Oleh karena itu, diperlukan standar yang mengatur spesifikasi dan pengoperasiannya agar hasil pengukuran dapat diperoleh secara konsisten dan dapat dibandingkan. Selain proses pengambilan contoh, keseragaman metode perhitungan juga diperlukan. RSNI Bagian 2 disusun untuk menyeragamkan model dan pengoperasikan sungkup tertutup. Sedangkan RSNI Bagian 3 disusun untuk menyatukan cara perhitungan fluks dan emisi CH₄ serta N₂O dari data hasil pengukuran.
Data emisi yang dihasilkan melalui metode terstandar dapat mendukung proses pelaporan dan verifikasi emisi GRK. Hal ini menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan Perpres Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Selanjutnya, dokumen tersebut akan dipublikasikan secara luas untuk memperoleh tanggapan dan masukan dari masyarakat sebagai bagian dari proses penyusunan standar.
Melalui standardisasi metode pengukuran dan perhitungan, data emisi GRK dari lahan padi sawah diharapkan memiliki kualitas yang lebih konsisten dan dapat menjadi dasar yang kuat dalam mendukung pengendalian emisi GRK di sektor pertanian.